Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

Ayo Sayangi Bumi Kita !


Apakah kita pernah berterima kasih kepada Bumi dengan apa yang telah diberikan kepada kita selama hidup di dunia ini ? Dan apakah kita sudah menjaga tempat tinggal kita yang tercinta ini dengan baik ?  Pernyataan itu lah yang sering sekali muncul dipikiran setiap manusia. Jawaban yang tepat dari pertanyaan itu adalah masih banyak perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Bukannya menjaga dan merawat Bumi dengan baik tetapi malah membuatnya menjadi rusak. Bumi kini menjadi kotor dan tidak nyaman lagi untuk ditinggali. Seakan-akan kita ini tidak berterima kasih pada Bumi yang telah menyediakan tempat tinggal, sumber daya alam, air dan sebagainya.

Oleh karena itu, kita harus mulai mengubah hidup kita agar perbuatan kita ini tidak lagi merusak Bumi. Tentunya kita adalah manusia yang tidak dapat melakukan semua jenis hal. Jadi, yang terpenting kita melakukan perbuatan yang dapat kita lakukan dan tidak perlu juga memaksakan diri. Cukup melakukan hal yang sederhana saja. Karena biasanya hal-hal yang sederhana itu sering kita lupakan. Hal sederhana yang dapat kita lakukan contohnya adalah membuang sampah pada tempatnya, melakukan penghematan listrik, mengurangi pemakaian kertas berlebihan, menghemat penggunaan tas plastik dan masih banyak lagi. Anak-anak sampai dewasa pun bisa melakukan hal sederhana yang cukup bisa menyelamatkan Bumi kita ini. Yang terpenting adalah kesadaran diri setiap manusia itu.


Begitu juga dengan penggunaan listrik dan air yang setiap hari kita pakai. Pernahkah kamu membiarkan lampu kamarmu di siang hari tetap menyala ? Dan baru mematikannya jika ada orang yang menyuruh atau mengingatkan. Kalau pernah, berarti kamu belum bisa menghemat penyediaan listrik di Bumi ini. Jadi cepatlah ubah prinsip dirimu untuk belajar berhemat. Jangan menunggu orang lain untuik berbuat hal kebaikan. Melainkan itu bersumber dari diri kita sendiri.
Jadi intinya, untuk menjaga lingkungan Bumi kita yang tercinta ini, lakukanlah suatu hal yang kecil terlebih dahulu karena sesuatu yang besar tidak ada sebelum ada hal yang kecil. Kalau hal kecil itu dilakukan oleh banyak manusia, maka hal kecil itu akan lama-lama akan menjadi hal yang besar. Contohnya saja, kalau setiap keluarga di sebuah desa tidak membuang sampah di sungai dan menjaga kebersihannya, maka daerah tersebut akan menjadi bersih dan nyaman. Tetapi kalau kebalikannya, maka tentunya daerah itu akan sangat kotor sekali dan bisa-bisa menjadi bencana untuk masyarakat disekitarnya. .

Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan hal-hal kecil seperti contohnya menghemat listrik, menghemat air, menghemat pemakaian kertas, sampai membuang sampah pada tempatnya. Lakukan hal itu mulai dari diri kita sendiri lalu tularkanlah pada orang-orang disekitar kita. Berikan hadiah yang termahal untuk anak cucu kita nanti, Bumi yang bersih dan nyaman untuk ditinggali.


                                                                       

Wujud Budaya Yang Peduli Lingkungan

Bali. Sebuah pulau dengan segudang kebudayaan yang tidak mungkin lepas dari yadnya. Yadnya artinya korban suci yang tulus ikhlas. Dalam yadnya yang dilakukan pasti ada banten yang sebagai simbolnya dipersembahkan kepada Tuhan. Banten pasti terdiri dari canang salah satunya. Canang adalah sarana umat Hindu dalam berkomunikasi denganNya. Bahkan setiap hari, umat Hindu di rumahnya pasti mempunyai persediaan canang untuk mebanten sehari-hari. Kalau sehari saja di Bali tidak ada canang , Bali hampa rasanya. Biasanya canang yang digunakan di hampir setiap daerah di Bali biasanya adalah canang yang berbentuk ceper. Bahan yang digunakan dalam pembuatan canang ini beragam jenisnya. Mulai dari janur, kembang rampe, daun pisang, berbagai macam bunga, semat, buah, sirih, pisang, beras sampai tebu. 

            Banten, atau bagian kecil dari banten, canang merupakan penghubung antar sesama manusia, manusia dengan lingkunga dan manusia dengan Tuhan. Atau dalam konteksnya disebut Tri Kaya Parisudha. Apabila ketiga hubungan tersebut berjalan dengan baik, maka pasti akan terjadi keseimbangan alam. Rata-rata dalam seharinya setiap keluarga membutuhkan 30 buah canang. Bayangkan saja jika dalam satu tahun. Berapa banyak canang yang kita perlukan. Itu baru keperluan canang sehari-hari. Belum termasuk canang untuk keperluan lainnya. Keberadaan canang sangat menunjang upaya pelestarian hidup, ternyata. Lalu kenapa bisa begitu ?

            Janur adalah bagian utama dari canang. Kira-kira untuk membuat 1 canang diperlukan maksimal 2 helai janur. Bisa dibayangkan berapa helai janur yang Bali perlukan dalam pembuatan canang dalam satu tahunnya. Biasanya janur, jika di luar Bali, Jawa misalnya biasanya digunakan untuk pembuat ketupat. Selain itu jarang janur digunakan. Hanya di Bali janur bernilai rupiah yang tinggi. Janur banyak sekali yang dapat digunakan khususnya dalam membuat banten. Balipun juga banyak mendatangkan janur dari daerah-daerah di Indonesia, contohnya saja Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Selain itu juga ada semat. Semat ini terbuat dari bamboo yang dipotong memanjang tipis. Ternyata penggunaan bambu ini bisa menjaga tanah dari erosi dan menjaga ketersediaan air dalam tanah. Itu artinya, dengan cukup kita menanam tanaman yang biasanya diperlukan dalam pembuatan canang. Kita telah mampu melakukan pelestarian lingkungan. Tapi jangan teori saja, kita juga harus berusaha mempraktekkannya.

Dulu Putih Kini Hitam


Beberapa belas tahun lalu, anak-anak berlari menelusuri jalanan kota Denpasar tanpa mengenal kata lelah. Kota yang dulu masih dipenuhi dengan udara segar pepohonan yang tumbuh rindang. Berlari bermain tanpa mengenal asap kendaraan ataupun polusi udara lainnya. Tawa bahagia yang merekah seakan menjadi bagian dari kota itu sendiri. Kota ini masih perawan. Menjelang pukul 7 pagi tampak anak-anak bersepeda menuju sekolahnya ada juga yang terlihat berjalan kaki sambil bercengkrama. Sinar matahari menyinari kota dengan penuh. Udara pagi sangat segar dan terkadang terasa sejuk. Semua dulu baik-baik saja.
Tapi sekarang bagaimana kota kita ? Pepohonan yang dulu tumbuh rindang yang biasanya menjadi tempat berteduh kini tinggal akarnya saja. Banyak penebangan pohon yang dilakukan secara liar, hutan-hutan sebagian menjadi gundul. Tawa bahagia itu seketika hilang. Tanah lapang dipinggiran jalanan kota kini disulap menjadi gedung besar yang megah. Para pemilik sawah tampak berlomba-lomba memasang pengumuman penjualan sawah miliknya. Sawah yang dulu hijau kini telah berubah menjadi villa ataupun rumah. Jika diamati lebih dalam lagi apakah kawasan hijau masih dengan gampang ditemukan di kota ini ? Jawabannya menyesakkan dada. Kawasan hijau sudah tergerus. Tercatat sekitar 800 hektar lahan per tahun yang dialihfungsikan. Hal tersebut dapat saja mengakibatkan bencana banjir. Lima tahun belakangan ini,  kawasan kota hampir rajin mengalami kebanjiran. Baru hujan 10 menit saja, jalanan kota tergenang air yang hampir selutut. Selokan yang dipenuhi dengan sampah otomatis menjadi mampet. Hal ini menunjukkan semakin hilangnya keseimbangan ekologis di kawasan perkotaan.
Contoh saja di daerah Monang-Maning Denpasar yang rutin terjadi banjir. Padatnya penduduk ditambah lagi dengan banyaknya fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas ataupun kantor yang ada disana semakin mendukung terjadinya banjir di wilayah itu. Bagaimana pohon-pohon dapat menampung air didalam tanah kalau pohon itu sendiri kini banyak ditebang. Alhasil inilah yang terjadi, banjir dimana-mana. Kalau sudah begini bencana alam lain bisa menyusul seperti halnya tanah longsor. Lihat saja kawasan Renon di tengah kota Denpasar. Sepantasnya menjadi ruang terbuka hijau, tapi malah banyak bangunan berdiri nan kokoh. Tak habis pikir jadinya.  
Hampir setiap pagi bila kita membuka lembaran koran harian kota, topiknya memberitakan tentang adanya korban tewas akibat terkena arus banjir ataupun akibat tanah longsor, sungai di pinggiran kota meluap karena penuh dengan sampah-sampah yang didominasi dengan sampah plastik dan lain sebagainya. Atau bahkan lebih mirisnya lagi tentang berkurangnya daratan di Bali. Sungguh ini merupakan sindiran halus untuk Pemerintah Daerah maupun pihak yang terkait.
Kondisi kota dulu dan kini jauh berbeda, dulu penduduk masih nyaman, masih merasakan kesejukan. Kini jelas tidak. Penebangan pohon secara liar terlebih-lebih mempengaruhi kondisi air umumnya di Bali mengalami penurunan yang drastis dari tahun ke tahun bersamaan dengan konflik yang mengikutinya. Contohnya saja perebutan sistem pengaturan air di wilayah Subak sampai perebutan mata air oleh PDAM. Tentu hal ini membuktikan bahwa kota mengalami krisis air bersih mengingat industri pariwisata sangat haus terhadap sumber daya air. Data yang didapat dari Walhi Bali menunjukkan, satu orang di Bali setiap harinya membutuhkan 200 liter air, satu kamar hotel membutuhkan 3.000 liter air dan satu lapangan golf mengonsumsi 3 juta liter air setiap hari.  
Disamping itu meningkatnya aktifitas penduduk turut serta mendorong pencemaran air menjadi tidak murni lagi. Pada akhirnya berakibat semakin langkanya air pada musim kemarau. Semakin rusaknya lingkungan kita, semakin mengakibatkan berkurangnya kualitas air dalam tanah. Air mulai tercemar yang disebabkan dengan semakin padatnya pemukiman penduduk, pabrik-pabrik dengan penggunaan bahan kimia yang limbahnya langsung dialirkan ke sungai. Hal ini sangat berbahaya karena banyak bakteri dari sampah ataupun limbah yang bercampur dengan air tanah. Penduduk bisa rawan berpenyakit. Contohnya saja sakit perut, disentri, gatal-gatal, alergi dan kolera.
Perubahan yang pesat dalam bidang pariwisata. Banyak objek wisata yang dikembangkan mencaplok lahan pertanian produktif dalam jumlah puluhan bahkan ratusan hektar, dan bahkan telah menggusur atau mengganggu keberadaan tempat-tempat suci (parahyangan) di sejumlah lokasi. Selain itu juga mencaplok kawasan pantai, kemudian menutup fungsi pantai sebagai tempat suci bagi orang Bali dalam prosesi upacara Melasti, yakni penyucian alam semesta dan diri sendiri menjelang Hari Suci Nyepi. Keharmonisan hubungan manusia Bali dengan Tuhan kini mulai terganggu, sehingga secara langsung berpengaruh buruk kepada sikap dan prilaku masyarakat setempat terhadap lingkungan dan sesamanya.
Hal yang sama, kota ini tidak terlepas dari kemacetan hampir setiap harinya. Setiap orang yang tinggal di kota ini rata-rata memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor. Lebih celakanya lagi, permasalahan kemacetan ini diatasi dengan membangun jalan-jalan baru yang tentu saja mengalihfungsikan kawasan hijau. Hal ini malah lebih menimbulkan polemik yang lebih besar lagi.
Dalam ajaran agama Hindu dikenal Tri Hita Karana. Ajaran yang mengajarkan umat manusia untuk memiliki hubungan yang harmonis terhadap semua hal yang ada di dunia ini. Termasuk juga di dalamnya harmonis dengan lingkungan sekitar atau alam yang dikenal dengan nama Palemahan. Sebenarnya, masyarakat Hindu dulu menjunjung tinggi ajaran ini. Maka dari itu, wilayah Bali umumnya dulu hampir tak tersentuh modernisasi, padahal Bali merupakan daerah tujuan wisata. Perubahan sikap manusia Bali baru terlihat beberapa tahun belakangan. Mungkin hal itu karena penurunan toleransi terhadap lingkungan sekitar.
Untuk membenahi dan memperbaikinya,  peran seluruh warga kota khusunya sangatlah dibutuhkan. Karena merekalah yang berhak untuk menikmati segala fasilitas yang ada. Tentu saja. Karena untuk merekalah bagian dari kota ini. Bukannya untuk kepentingan beberapa pihak. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran para oknum terkait untuk mengadakan penyelesaian tentang masalah-masalah yang dihadapi seperti banjir, krisis air, penebangan pohon sampai kemacetan yang rutin terjadi.  Disinilah warga kota harus turut ikut andil. Terlebih mempunyai usulan yang membangun. Di sisi lain, warga juga harus menjaga lingkungan kota dengan membuang sampah pada tempatnya, menghemat penggunaan air, sampai tidak melakukan penebangan secara liar.  Karena itulah peran serta kesadaran warga kota itu sendiri yang sangat penting. Bukannya wacana pemerintah yang hanya omongan belaka.
Sebagai warga yang tinggal di kota Denpasar, sudah semestinya kita menjaga kota. Meskipun tanpa adanya wacana pemerintah. Kita seharusnya sadar, siapa yang akan menikmati kota ini ? Tidak lain tidak bukan adalah kita sendiri. Siapa yang tidak ingin tinggal di kota yang sehat. Siapa juga yang tidak ingin mendapatkan air yang bersih tanpa pencemaran. Semua hal positif harus kita lakukan agar kita kembali melihat senyum anak-anak yang bermain riang di pinggiran jalanan kota. Berlari-larian tanpa terbatuk atau tersedak asap kotor kendaraan. Senyum yang akan selalu senantiasa menghiasi hari-hari mereka. Bukannya itu yang kita inginkan kawan ?